Perkembangan Teknologi Tahun 2050 Dari Berbagai Aspek

Pada kenyataannya film-film Hollywood sudah banyak yang memberikan suguhan teknologi yang luar biasa di dalam ceritanya. Beberapa diantaranya:

(1).Pacific Rim (2013)

Dalam Film:

Seperti serial kartun klasik Pat labor, Pacific Rim menggambarkan robot-robot besar yang dikemudikan oleh manusia.

Kenyataan:

Telah ada pengembangan sebuah robot layaknya di film ini. Suidobashi Heavy Industries dari Jepang berhasil membuat sebuah robot setinggi 3 meter seberat 6 ton yang dikemudikan oleh manusia. Robot tersebut diberi nama Kurata.

(2).Elysium (2013)

Dalam Film:

Elysium menghadirkan sebuah baju tempur dalam model exoskeleton yang bisa memberikan kekuatan berlebih untuk siapa yang memakainya.

Kenyataan:

Teknik exoskeleton juga sudah ditemukan di kehidupan nyata. Di pembukaan piala dunia 2014, penendang bola pertama adalah seorang yang lumpuh, namun dia menggunakan full-body exoskeleton yang digerakkan dengan pikiran.

(3).Eternal Shunshine of The Spotless Mind (2004)

Dalam Film:

Film ini menceritakan sebuah alam di mana ingatan bisa dihapus seperti membuang sampah.

Kenyataan:

Belum ada teknologi pasti untuk melakukan hal ini, tetapi para ilmuwan sudah mengembangkan sebuah penghapus ingatan yang sukses dilakukan kepada tikus-tikus percobaan. Disebut denga obat HDAC2, obat ini bisa menghapus trauma dalam otak tikus, jika obat ini sudah disempurnakan penemuan ini berguna untuk para penderita post-traumatic stress disorder (PTSD).

(4).Her (2013)

Dalam Film:

Dalam film Her digambarkan sebuah operating system yang mempunyai perasaan, bahkan bisa jatuh cinta dengan pemiliknya.

Kenyataan:

Sejauh ini asisten dengan kecerdasan buatan baru tercipta dalam bentuk Google Now atau Siri (dari Apple Inc.). Tetapi seorang ilmuwan bernama Ray Kurzweil percaya jika di tahun 2029 hal yang ada di film Her bisa benar-benar terjadi.

(5).Iron Man (2008)

Dalam Film:

Jarvis adalah sebuah program kecerdasan buatan yang membantuk Tony Stark (Robert Downey Jr.) dalam menyelesaikan semua penelitiannya, dalam trilogi film Iron Man (2008-2013) sering muncul tampilan komputer modern, layaknya menggunakan layar hologram yang digunakan oleh Tony Stark.

Kenyataan:

CEO Space X, Elon Musk sudah mulai mengembangkan sebuah laboratorium seperti yang muncul di film Iron Man. Tahun 2013 lalu Musk pernah mempresentiasikan sebuah desain menggunakan gerakan tannganya, pada waktu itu Musk masih menggunakan sebuah sensor gerak, sebuah Oculus Rift dan Proyektor.

Akan ada teknologi yang canggih yang sebelumnya tidak terpikir oleh manusia akan hadir di tahun 2050, tentunya diharapkan teknologi yang akan hadir dapat membantu manusia dan tidak merusak ekosistem yang ada di alam sehingga keadaan di bumi masih dapat dinikmati oleh manusia mendatang. Diharapkan teknologi akan membantu menciptakan keharmonisan antar sesame manusia.

Mungkin di Tahun 2050 akan ada peningkatan jaringan internet sampai dengan 100 kali lipat, kemudian system operasi computer akan setara dengan satu bumi otak manusia. Jaringan untuk menstransfer data akan sangat canggih. Teknologi transportasi akan meningkkat dengan pesat, mobil terbang dan membuat jalur di udara. Makanan akan banyak yang instan tetapi dengan kadar gizi yang baik. Akan lebih banyak jaringan perangkat yang online daripada manusianya. Robot akan hidup berdampingan dengan manusia.

Pada tahun 2050 NASA akan membuka wisata ke Mars atau Bulan. Baju selam akan lebih canggih sehingga memudahkan untuk menyelam di laut.

Advertisements

Studi Kasus Alih Teknologi

Alih teknologi ini memiliki 4 jenis, diantaranya:

  • Joint venture

Joint Venture adalah bentuk kerjasama antar beberapa perusahaan yang berasal dari beberapa negara menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan-kekuatan ekonomi yang lebih padat.

Contoh perusahaan yang melakukan joint venture adalah : Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) yang merupakan joint venture antara PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) dan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) dari pihak Indonesia dengan Emaar Properties daripihak Arab. LTDC bertempat di Indonesia AutoAlliance International (joint venture antara Ford dengan Mazda).

  • Foreign direct investment

FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi langsung luar negeri adalah salah satu ciri penting dari sistem ekonomi yang kian mengglobal. FDI bermula saat sebuah perusahaan dari satu negara menanamkan modalnya dalam jangka panjang ke sebuah perusahaan di negara lain. Dengan cara ini perusahaan yang ada di negara asal (home country) bisa mengendalikan perusahaan yang ada di negara tujuan investasi (host country) baik sebagian atau seluruhnya. Caranya dimulai dimana penanam modal membeli perusahaan di luar negeri yang sudah ada atau menyediakan modal untuk membangun perusahaan baru di sana atau membeli sahamnya sekurangnya 10%.

Contohnya Toyota dari Jepang berinvestasi di untuk membangun manufaktur automotif di Indonesia, atau Perusahaan China yang membentuk Joint-Venture dengan salah satu Perusahaan tambang di Indonesia untuk membangun Smelter. Investasi seperti inilah yang digolongkan sebagai FDI.

  • Turnkey Project

Membangun infastruktur dan konstruksi yang diperlukan perusahaan asing untuk menyelenggarakan proses produksi di Negara Dunia Ketiga. Bila segala fasilitas telah siap dioperasikan, perusahaan asing menyerahkan ‘kunci’ kepada perusahaan domestik atau organisasi lainnya.

Sebuah pembangkit listrik 150-MW diusulkan pada tahun 1985 oleh Perusahaan Texas-New Power Meksiko Fort Worth, Texas, yang akan memanfaatkan operasi turnkey. Setelah persetujuan oleh Texas Utilitas Komisi, sebuah konsorsium yang terdiri dari HB Zachry Co, Westinghouse Electric Co, dan Rekayasa Pembakaran, Inc akan merancang, membangun dan membiayai pembangkit listrik selesai pada tahun 1990 untuk biaya konstruksi diperkirakan sebesar $ 200 juta pada tahun 1990 dolar. Konsorsium akan bertanggung jawab total selama konstruksi, termasuk biaya pelayanan utang, dan dengan demikian menghilangkan risiko eskalasi biaya untuk pembayar tingkat, pemegang saham dan manajemen perusahaan utilitas.

  • Licensing Agreements

Izin dari sebuah perusahaan kepada perusahaan-perusahaan lain untuk menggunakan nama dagangnya (brand name), merek, teknologi, paten, hak cipta atau keahlian-keahlian lainnya.

Contoh kasus : Kepemilikan hak cipta dalam perjanjian lisensi pada kasus “ CAP KAKI TIGA“ Pemegang Hak Cipta berhak memberikan lisensi kepada pihak lain untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya dengan imbalan berupa royalti. Pemberian lisensi tersebut dibuat dalam suatu perjanjian lisensi. Isi perjanjian lisensi tidak mengalihkan hak cipta milik pemberi lisensi kepada penerima lisensi. Salah satu contoh dari perjanjian lisensi di Indonesia adalah pemberian lisensi hak cipta dan merek minuman penyegar Cap Kaki Tiga dari perusahaan Singapura Wen Ken Drug Company kepada perusahaan nasional PT Sinde Budi Sentosa. Perjanjian lisensi yang dibuat tahun 1978 tersebut kemudian diakhiri secara sepihak oleh Wen Ken pada tahun 2008 dan diikuti dengan beberapa sengketa HKI antara Wen Ken dengan Sinde, salah satunya adalah sengketa hak cipta atas Logo Cap Kaki Tiga dan Lukisan Badak. Mahkamah Agung dengan Putusan No. 104 PK/PDT.SUS/2011 memberikan hak cipta atas Logo Cap Kaki Tiga dan Lukisan Badak pada Sinde selaku penerima lisensi, dan menyatakan bahwa logo tersebut merupakan ciptaan bersama antara Wen Ken, Sinde, dan Budi Yuwono. MA tidak mengakui Wen Ken selaku pemberi lisensi sebagai satu-satunya Pemegang Hak Cipta atas logo tersebut. Salah satu yang menjadi dasar pertimbangan MA dalam putusannya adalah karena Wen Ken tidak memiliki bukti pendaftaran hak cipta atas logo tersebut, baik di negara asalnya Singapura maupun di negara-negara lain.

Konglomerasi Media dan Keberagaman Media Massa di Indonesia

Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38).

1

Berbicara perihal dunia media massa di Indonesia, tentunya tidak bisa dipisahkan dari hadirnya bangsa Barat di tanah air kita. Memang tidak bisa dimungkiri, bahwa orang Eropa lah, khususnya bangsa Belanda, yang telah berjasa memelopori hadirnya dunia media massa di Indonesia. Masalahnya sebelum kehadiran mereka, tidak diberitakan adanya media masa yang dibuat oleh bangsa pribumi. Perkembangan media di Indonesia saat ini sudah semakin maju. Dunia cetak perlahan-lahan mulai beralih ke dunia digital dan elektronik. Semakin banyaknya perusahaan-perusahaan media memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat di dunia media massa.

Di dunia ada sosok yang disebut-sebut sebagai raja media internasional yaitu Rupert Murdoch. Rupert Murdoch (lahir 11 Maret 1931 di Australia) adalah mogul media multinasional yang penuh kontroversi. Murdoch berhasil membangun kekaisaran surat kabar dan tabloid yang tersebar dari Australia, Inggris hingga Amerika Serikat serta berekspansi ke televisi, film, internet, dan yang paling baru ke pasar berita keuangan. News Corp, perusahaan induk milik Murdoch, telah menjadi identik dengan namanya. Rupert Murdoch muda masuk ke Universitas Oxford di mana dia belajar politik dan ekonomi sambil menulis artikel untuk surat kabar mahasiswa. Setelah kematian ayahnya, Murdoch mewarisi saham pengendali di News Limited of Adelaide, Australia, yang menerbitkan The News, sebuah koran lokal. Pada tahun 1953, Rupert Murdoch meninggalkan Oxford untuk menjadi managing director News Limited hanya untuk menemukan ayahnya telah meninggalkan banyak utang. Setelah menjual saham berbagai surat kabar, Rupert Murdoch akhirnya berhasil meraih sukses termasuk memiliki majalah mingguan televisi bernama TV Week. Arus kas ekstra membuat Murdoch mampu meminjam uang untuk membiayai usaha lebih lanjut. Menguasai lebih banyak koran di sebagian besar Australia, Murdoch juga membeli The Daily Mirror, sebuah tabloid yang berbasis di Sydney.

Pada tahun 1964, Murdoch mendirikan koran nasional Australia pertama, The Australian, yang konon dimaksudkan untuk mendapatkan rasa hormat politik. Pada tahun 1968, Rupert Murdoch memperluas bisnis ke Inggris dengan memperoleh kendali The News of the World, surat kabar berbahasa Inggris paling populer pada masanya dengan sirkulasi internasional lebih dari 6 juta eksemplar. Murdoch juga membeli The Sun, sebuah majalah Inggris baru untuk kemudian berhasil diubah menjadi sebuah tabloid sukses. Pada tahun 1973, Rupert Murdoch mulai mengalihkan perhatian ke Amerika Serikat. Membeli berbagai surat kabar dan majalah, dia lantas mendirikan tabloid Star dan pada tahun 1976 membeli The New York Post. Murdoch lantas menjadi warga negara AS pada tahun 1985 untuk kemudian membeli stasiun televisi Amerika FOX Network yang sangat populer di kalangan pemirsa muda. Menyusul keberhasilan ini, Murdoch meluncurkan The Fox News Channel pada tahun 1996, stasiun kabel 24 jam yang dirancang untuk bersaing dengan CNN.

4

Pada tahun 2003, News Corp membeli 34% saham Hughes Electronics yang memiliki DirecTV ™, sebuah perusahaan satelit terkemuka. Namun, minat Murdoch di televisi dan satelit tidak spesifik hanya di Amerika Serikat. BSkyB (perusahaan satelit terkemuka Inggris), The National Geographic Channel, The History Channel, dan Nickelodeon tercatat dimiliki sebagian oleh Rupert Murdoch. Stasiun televisi lain yang berada di bawah bendera News Corp meluas hingga ke Italia, Selandia Baru, Asia, dan negara-negara lain. Pada tahun 2005, News Corp membeli Intermix Media Incorporated, pemilik sosial media populer MySpace. Murdoch juga mengakuisisi saham IGN Entertainment, sebuah perusahaan berbasis multimedia video yang memiliki website seperti Askmen, Gamespy, dan RottenTomatoes. Sementara tidak ada yang meragukan keberhasilan Rupert Murdoch, namun News Corp disinyalir mengemban pandangan politik Murdoch sendiri. Di Amerika Serikat, Murdoch dikenal sebagai pendukung pandanga Kristen konservatif dan Partai Republik. Dia secara terbuka mendukung Ronald Reagan, Pat Robertson dan George W. Bush dalam pemilihan presiden AS. Sebagian percaya bahwa media di bawah kepemilikan Murdoch diarahkan untuk mempromosikan agenda konservatif.

Dalam contoh terkenal selama perang Irak tahun 2003, majalah Australia, The Buletin, yang mewawancarai Murdoch menunjukkan bahwa dia menjadi pendukung perang, mengutip bahwa penurunan harga minyak sebagai alasan utama. FOX News Network (FNN), yang yang memiliki slogan “we report, you decide” juga mendapat kecaman karena memiliki kecenderungan neo-konservatif dan anti-liberal. Namun Murdoch tak terbendung. Pada tahun 2007, dia berusaha mengakuisisi Dow Jones dan salah satu koran paling dihormati di AS, The Wall Street Journal, dengan nilai tawaran US$ 5,6 miliar. Menurut laporan FOX awal Agustus 2007, kesepakatan telah dicapai dan News Corp akan meneruskan pembelian. Dow Jones dikenal memiliki banyak situs keuangan berpengaruh, termasuk MarketWatch. Dengan semua pencapaian tersebut, Rupert Murdoch memposisikan dirinya sebagai raja media yang memiliki jaringan koran, majalah, televisi, dan situs web yang dibaca miliaran orang. Di Hongkong Murdoch memiliki Star TV yang memiliki jaringan majoritas di India, China, Thailand, Filipina, Malaysia dan Indonesia (STAR-ANTV). Bisnis Murdoch seakan tidak mungkin terbendung.

Kembali ke negara kita, Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang mengalami proses perkembangan juga tidak kalah pesat dengan negara lain dalam pertumbuhan media massa. Indonesia tercatat sampai tahun 2012 telah memiliki sekitar 1248 stasiun radio, 1706 media cetak, 76stasiun televisi, 176 stasiun televisi yang telah mengajukan izin penyiaran, serta ratusan media online yang mulai tumbuh menjamur di Indonesia. Apalagi jika kita melihat sekarang ini, yang mana teknologi media terus mengalami kemajuan, sudah menjadi konsekuensi logis jika jumlah media massa dalam berbagai bentuk juga terus bertambah.

Perusahaan media massa cetak dan elektronik yang ada di Indonesia hanya dikuasai oleh 13 perusahaan raksasa saja. Siapakah mereka? Mereka adalah MNC Group dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo mempunyai 20 stasiun televisi, 22 stasiun radio, 7 media cetak dan 1 media online; Kompas Gramedia Group milik Jacob Oetomo memiliki 10 stasiun televisi, 12 stasiun radio, 89 media cetak dan 2 media online; Elang Mahkota Teknologi milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja mempunyai 3 stasiun televisi dan 1 mediaonline; sedangkan Mahaka Media dipunyai oleh Abdul Gani dan Erick Tohir mempunyai 2 stasiun televisi, 19 stasiun radio, dan 5 media cetak; CT Group dipunyai Chairul Tanjung memiliki jaringan 2 stasiun televisi, 1 media online.

56

Grup perusahaan lainnya adalah Beritasatu Media Holdings/Lippo Group yang dimiliki James Riady mempunyai 2 stasiun televisi, 10 media cetak dan 1 media online; Media Group milik Surya Paloh memiliki 1 stasiun televisi dan 3 media cetak; Visi Media Asia (Bakrie & Brothers) milik Anindya Bakrie mempunyai 2 stasiun televisi dan 1 mediaonline; Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan dan Azrul Ananda mempunyai 20 stasiun televisi, 171 media cetak dan 1 media online; MRA Media milik Adiguna Soetowo dan Soetikno Soedarjo memiliki 11 stasiun radio, 16 media cetak; Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo mempunyai 2 stasiun radio dan 14 media cetak; Tempo Inti Media milik Yayasan Tempo memiliki 1 stasiun televisi, 1 stasiun radio, 3 media cetak dan 1 mediaonline; Media Bali Post Group (KMB) milik Satria Narada mempunyai 9 stasiun televisi, 8 stasiun radio, 8 media cetak dan 2 media online(Nugroho,Yanuar. dkk. 2012 dan Lim, M. 2012).

Jika dipetakan kembali, di luar 13 grup korporasi media massa nasional di atas terdapat perusahaan media raksasa milik negara [milik rakyat] yakni TVRI, RRI dan Kantor Berita Antara yang selama ini penggunaannya lebih diberdayakan sebagai “kepanjangan tangan” dari pemerintah yang sedang berkuasa, sehingga publik (masyarakat) merasa kurang memilikinya. Dan juga di berbagai daerah, hingga kini masih hidup perusahaan media lokal yang terlepas dari struktur manajemen 13 perusahaan raksasa nasional di atas. Mereka adalah KR Group (SKH Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, SKM Minggu Pagi, KR Radio), Pikiran Rakyat Group (Pikiran Rakyat, Galamedia, Pakuan, Priangan, Fajar Banten, Radio Parahyangan, Percetakan PT Granesia Bandung), Suara Merdeka Group (Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Harian Tegal, Harian Pekalongan, Harian Semarang, Harian Banyumas dll.), Bisnis Indonesia Group (Bisnis Indonesia, Solopos, Harian Jogja, Solopos FM) serta grup perusahaan daerah lain.

Pihak ini banyak mempunyai tujuan yang mengacu pada ranah politik, media yang dimilikinya sengaja dijadikan kendaraan menuju tujuan politik masing-masing pihak. Bisa dibilang negara gagal dalam mengintervensi fungsi dan kepemilikan media untuk kepentingan bangsa. Yang terjadi justru sebaliknya, penguasa dan pengusaha malah bersama-sama menggunakan media untuk kepentingan mereka masing-masing. Regulasi penyiaran sebagai landasan tata kelola penyiaran indonesia yang berwujud UU tidak relevan sama sekali. Para elit politik kita tidak tanggung-tanggung lagi dalam konglomerasi media massa demi kepentingan politik dan ekonomi mereka dan partainya. Oligopoli media kita membuat media hanya dipegang segelintir kecil pihak. Rakyat benar-benar dirampas haknya oleh konglomerasi media, bahkan hak yang paling mendasar mendapatkan informasi yang layak dan benar.

Daftar Pustaka:

  1. http://romeltea.com/media-massa-makna-karakter-jenis-dan-fungsi/
  2. http://www.amazine.co/28091/siapakah-rupert-murdoch-kisah-raja-media-internasional/

Foto:

  1. http://www.nias-bangkit.com/wp-content/uploads/2013/08/Media-massa.jpg
  2. http://kl.coconuts.co/sites/kl.coconuts.co/files/field/image/rupertmurdoch.jpg
  3. http://gema-nurani.com/wp-content/uploads/2012/11/mass_media.jpg_480_480_0_64000_0_1_0.jpg
  4. https://luthfimadura.files.wordpress.com/2009/04/media.jpg